Si Manis Jembatan Ancol





Di Jembatan yang dulunya dikenal dengan nama Jembatan Goyang ini dipercaya menjadi tempat yang sering terjadi penampakan hantu perempuan yang cantik. Selain itu di tempat ini juga sering terjadi kecelakaan fatal yang tidak jelas penyebabnya. 

Alkisah, pada awal abad 19, Indonesia yang kala itu masih dijajah oleh Belanda, dan Jakarta masih menggunakan nama Batavia, hidup seorang Mak Emper dan anaknya, Siti Ariah. Mereka tinggal di sebuah paviliun milik seorang juragan kaya. Saat Ariah berusia 16 tahun, sang juragan berniat untuk menikahi Ariah. Namun, Ariah tidak mau dengan alasan selain hanya akan menjadi selir, ada kakak Ariah yang belum menikah.

Maka, Ariah pun kabur dari rumah untuk menghindari sang juragan kaya. Dalam pelariannya itu, Oey Tambahsia, seorang yang terkenal kaya raya di Batavia saat itu dan punya vila di kawasan Bintang Mas (sekarang daerah Ancol), memergoki Ariah. Oey yang juga dikenal suka mengoleksi perempuan muda pun begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Siti Ariah.

Maka, Oey memerintahkan dua orang centengnya untuk menangkap Siti Ariah. Ariah berlari dan memberikan perlawanan yang sangat hebat kepada dua centeng bernama Pi’un dan Surya itu. Hingga akhirnya, Bendungan Dempet dekat Danau Sunter yang waktu itu terkenal sangat angker, Ariah tewas di tangan kedua centeng tersebut.

Jenazahnya dibuang di area persawahan, sekitar 400 meter dari Jembatan Ancol. Peristiwa itu terjadi pada 1817, menurut catatan Ridwan Saidi, tokoh Betawi yang melakukan penelitian tentang legenda Ariah dari saksi – saksi hidup pada tahun 1955 – 1960.

Berangkat dari kisah tersebut, sering terjadi penampakan gadis manis yang dipercaya sebagai hantu dari Siti Ariah yang menuntut balas dendam. Namun seorang H Mohammad Husni, warga Kebon Jeruk, Jakarta, yang melukis sosok Ariah pada 2003 setelah merasa mendapatkan wangsit mengatakan, ”Ariah itu seorang gadis biasa. Kalau disebut cantik, itu relatif.

Kulitnya sawo matang, tingginya sekitar 160 cm. Rambutnya panjang, bajunya kebaya hitam berbintik – bintik biru. Matanya sedikit juling.” Pak Husni menambahkan, ada pesan Ariah yang disampaikan lewat lukisan itu, bahwa dia adalah gadis biasa yang teraniaya. Bukan setan atau kuntilanak sebagaimana gambaran masyarakat selama ini.